Metro, 3 September 2025 – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II menyelenggarakan kegiatan pendampingan penyusunan kurikulum inovatif berbasis kampus berdampak bagi seluruh perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah II bertempat di Gedung AR Fachruddin, Kampus 1 Universitas Muhammadiyah (UM) Metro, acara ini merupakan bagian dalam memperkuat implementasi kebijakan pendidikan tinggi yang berfokus pada relevansi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Acara diawali dengan sambutan dari Rektor UM Metro, Dr. Nyoto Suseno, M.Si. Dalam kesempatannya menyampaiakn terima kasih kepada LLDIKTI Wilayah II yang telah memilih UM Metro sebagai tuan rumah dan memfasilitasi forum penting ini. “Terima kasih kepada LLDIKTI Wilayah II saya ucapkan, mewakili seluruh perguruan tinggi yang hadir, karena telah memfasilitasi untuk memberikan pencerahan dalam mewujudkan dan mengimplementasikan perguruan tinggi berdampak,” ujarnya. Dr. Nyoto berharap pendampingan ini dapat menghasilkan dampak yang positif bagi pengembangan kurikulum dan sumber daya manusia Indonesia.

Iskhaq Iskandar, M.Sc., diwakilkan oleh Ketua Tim Kerja Pembelajaran dan Kemahasiswaan LLDIKTI Wilayah II, Marcelai, S.Sos., M.A. Dalam sambutannya, Marcelai menegaskan bahwa Kampus Berdampak adalah manifestasi dan transformasi pendidikan tinggi yang berorientasi pada penyediaan solusi inovatif dan berkelanjutan bagi permasalahan bangsa. “Kegiatan ini merupakan respons konkret terhadap kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang telah diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional sebagai keberlanjutan dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM),” katanya.
Ia menambahkan bahwa komitmen LLDIKTI Wilayah II tidak hanya sekadar menunaikan kewajiban, tetapi benar-benar berharap dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang relevan, inovatif, dan berdampak. “Kurikulum ini akan menjadi peta jalan bagi mahasiswa kita untuk tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang peduli dan solutif. Melalui kurikulum ini, setiap mata kuliah harus mampu menjadi jembatan antara teori di ruang kelas dan praktik di lapangan,” tegas Marcelai.

Sesi pendampingan diisi secara komprehensif oleh narasumber utama, Dr. Ating Yuniarti, S.Pi., M.Aqua., dari Tim Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Pemaparan materi dimulai dengan membahas tantangan global yang dihadapi generasi mendatang. Dr. Ating merinci 10 Megatren Dunia yang diproyeksikan hingga tahun 2045, yang mencakup perubahan demografi, urbanisasi global, perdagangan internasional, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, kemajuan teknologi yang pesat, serta perubahan geopolitik dan geoekonomi. Megatren-megatren ini menciptakan peluang sekaligus tantangan dan ketidaksetaraan yang harus diantisipasi melalui pendidikan.
Sebagai respons, Dr. Ating menjelaskan perlunya kurikulum yang membekali mahasiswa dengan Kemampuan Abad ke-21, yang meliputi keterampilan belajar (seperti berpikir kritis dan kreatif), keterampilan literasi (informasi, media, teknologi), dan keterampilan hidup (fleksibilitas, kepemimpinan). Pendekatan Learning Compass 2030 dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga diperkenalkan sebagai navigasi bagi siswa untuk membentuk masa depan mereka di tengah ketidakpastian.

Beliau menekankan bahwa transformasi menuju Kampus Berdampak merupakan kelanjutan dari kebijakan MBKM, dengan fokus pada outcome dan impact yang nyata bagi masyarakat. “Kurikulum tidak perlu diganti secara keseluruhan, cukup diperbaiki dan disesuaikan untuk mengakomodasi kemampuan abad ke-21,” tegas Dr. Ating. Perbaikan ini harus berfokus pada personalisasi pembelajaran, integrasi teknologi digital, adaptabilitas, pendekatan holistik, dan kolaborasi lintas disiplin.
Sebagai penutup, disampaikan bahwa kunci utama dalam penyusunan kurikulum yang berdampak adalah melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE). Kurikulum harus dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki dampak nyata di masyarakat. Sementara itu, MBKM tetap menjadi salah satu bentuk kegiatan pembelajaran di luar kampus yang mendukung pencapaian tujuan tersebut.
Melalui pendampingan yang mendalam ini, LLDIKTI Wilayah II berharap seluruh perguruan tinggi dapat merumuskan kurikulum yang relevan dan inovatif. Hal ini bertujuan untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan menjawab tantangan global menuju Indonesia Emas 2045. (Tim Humas)


