Dalam rangka memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola kesehatan secara mandiri dan sistematis, dua dosen dari Politeknik Kesehatan Kesuma Bangsa, Galuh Ismayanti dan Rista Maleni, melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Edukasi Rekam Kesehatan Hasil Pemeriksaan Darah” di SMK Farmasi Kesuma Bangsa, Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkenalkan pentingnya pencatatan hasil pemeriksaan laboratorium serta tata kelola data kesehatan pribadi yang aman di era digital.
Program ini merupakan bentuk inovasi edukatif yang mengintegrasikan pemeriksaan darah komprehensif (gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan asam urat) dengan pendidikan kesehatan digital, yang berfokus pada interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium secara mandiri, pencatatan data kesehatan berbasis teknologi, dan perlindungan data pribadi dalam konteks rekam medis digital. Kegiatan dilengkapi dengan sesi simulasi penggunaan aplikasi kesehatan digital, diskusi hak pasien atas data medis, serta pelatihan teknis pengelolaan privasi dalam system pencatatan elektronik.
Inisatif ini dirancang dan diimplementasikan oleh Galuh Ismayanti, S.Kep., M.K.M., dan Rista Maleni, S.T., M.T., yang berafiliasi dengan Politeknik Kesehatan Kesuma Bangsa. Sasaran kegiatan mencakup 33 peserta dari masyarakat sekitar SMK Farmasi Kesuma Bangsa, dengan rentang usia 17 – 50 tahun yang sebelumnya memiliki tingkat literasi kesehatan dan digital yang relatif rendah. Partisipasi aktif Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Lampung juga menjadi penunjang dalam pelaksanaan skrining kesehatan masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Secara administratif kegiatan ini dilakukan tanggal 9 Mei 2025. Pelaksanan di lapangan dilakukan setelah memproleh perizinan dan koordinasi dengan pihak sekolah dalam waktu yang disesuaikan dengan protokol dan kesiapan fasilitas.
Program ini terpusat di lingkungan SMK Farmasi Kesuma Bangsa yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol No. 3, Gedong Air, Tanjung Karang Barat Kota Bandar Lampung. Sekolah ini dipilih sebagai mitra strategis karena relevansi bidang farmasi dengan edukasi literasi hasil laboratorium dan pengelolaan rekam medis digital.
Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan problem aktual di masyarakat, yaitu kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hasil pemeriksaan darah yang sering kali diterima sebagai angka tanpa ada kemaknaan yang dipahami masyarakat awam. Minimnya kebiasaan mencatat riwayat medis secara sistematis baik dalam bentuk manual maupun digital. Tingkat literasi digital yang rendah dan ketidakpercayaan terhadap keamanan data sehingga aplikasi kesehatan yang tersedia tidak termanfaatkan secara optimal.
Dalam konteks ini rekam medis digital tidak hanya diposisikan sebagai alat dokumentasi, tetapi sebagai media pemberdayaan pasien (patient empowerment) untuk berperan aktif dalam menjaga, memantau, dan memahami kondisi kesehatannya.

Program dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu skrining dan sosialisasi awal. Peserta mengikuti pemeriksaan tekanan darah, glukosa darah, kolesterol dan asam urat. Hasil pemeriksaan dicatat pada kartu individual dan langsung dijelaskan maksudnya oleh tenaga medis yang berkompeten. Kemudian peserta memperoleh edukasi komprehensif tentang parameter laboratorium yang diperiksa, hubungan antara nilai-nilai tersebut dengan resiko penyakit tidak menular, serta pola hidup yang harus dijalankan untuk pencegahan.
Edukasi rekam medis digital dan perlindungan data pribadi sesi ini berfokus pada pemilihan aplikasi rekam kesehatan yang aman dan user friendly, teknik pengamanan data enkripsi, pengelolaan kata sandi, dan pembatasan akses, hak pasien atas informasi medis menurut UU PDP dan GDPR, dan simulasi pencatatan mandiri berbasis aplikasi digital. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan andragogi dan teori perubahan perilaku untuk memastikan keberterimaan materi oleh peserta dengan latar belakang pendidikan dan usia yang beragam.
Hasil kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta. Sebelum kegiatan hanya 15% peserta yang memahami pentingnya pencatatan rekam kesehatan. Setelah edukasi pemahaman meningkat hingga 92% serta mayoritas peserta mulai aktif mencatat hasil pemeriksaan dalam format buku maupun aplikasi. Selain itu terjadi peningkatan kesadaran akan resiko berbagi data medis secara sembarangan. Peserta mulai memahami hak mereka atas rekam medis dan cara menuntut perlindungan jika privasi dilanggar. Terbentuknya komunitas kecil pengguna aplikasi kesehatan digital berbasis edukasi yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Kegiatan ini membuktikan bahwa intervensi edukatif berbasis integrasi pemeriksaan laboratorium, literasi digital dan perlindungan data kesehatan mampu membangun kesadaran preventif yang kuat di masyarakat. Dalam konteks system kesehatan nasional, penguatan peran individu dalam pencatatan rekam medis digital akan sangat mendukung pencapaian target transformasi layanan primer, digitalisasi kesehatan dan deteksi dini penyakit tidak menular sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis Kemenkes RI menuju Indonesia Sehat 2045. (Penulis: Galuh Ismayanti, S.Kep., M.K.M.)


