Bandar Lampung – Universitas Bandar Lampung (UBL) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus berdampak melalui inovasi berkelanjutan di bidang teknik sipil. Salah satu riset terbarunya menghadirkan solusi konstruksi ramah lingkungan dengan menciptakan agregat kasar buatan berbahan dasar Fly ash, limbah hasil pembakaran batu bara. Fly ash, yang selama ini dianggap sebagai limbah industri, berhasil dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk menggantikan agregat kasar alami seperti batu pecah, yang ketersediaannya kian menipis akibat eksploitasi berlebihan. Melalui penelitian yang dipimpin oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik UBL, dilakukan berbagai pengujian untuk memastikan kualitas agregat buatan tersebut memenuhi standar teknis konstruksi.
Hasil riset menunjukkan bahwa agregat buatan dari campuran 70% Fly ash dan 30% semen dengan tambahan bahan aditif (sika) mampu memenuhi standar Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3, khususnya dalam uji abrasi (<40%) dan penyerapan air (<3%). Nilai abrasi sebesar 24,45% dan daya serap 2,59% menunjukkan ketahanan material terhadap gesekan dan kelembaban, dua faktor penting dalam keandalan struktur bangunan.
Penelitian ini juga mengkaji efektivitas metode curing dengan suhu 60°C selama 24 jam yang terbukti menghasilkan agregat dengan kekuatan dan struktur mendekati batu alam. Meskipun dari sisi biaya, agregat buatan masih lebih mahal dibandingkan agregat alami, namun nilai keberlanjutan dan potensi reduksi limbah industri menjadi poin unggulan yang tak ternilai. “Inovasi ini tidak hanya menjawab tantangan keterbatasan sumber daya alam, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mengatasi persoalan lingkungan melalui pemanfaatan limbah menjadi produk konstruksi bernilai,” ujar peneliti, Dr. Ir. Rajiman, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., Ronny Hasudungan Purba, S.T, MSc.E, Ph.D dan Inggit Anugriyya Netriza.

Gambar 1. (a)Agregat lolos ayakan ¾ (b)Agregat lolos ayakan ½. (c)Hasil uji setelah abrasi Melalui inovasi ini, Universitas Bandar Lampung mendorong terciptanya ekosistem pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan dan mandiri. Ke depan, penelitian ini
diarahkan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bentuk beton struktural serta perkerasan jalan menggunakan agregat imitasi dari Fly ash.
UBL berharap inovasi ini dapat menginspirasi kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.
